Long time no see.
Pasca blog walking ke beberapa blog teman, I've amazed by their post.
Postingan mereka sungguh romantis.
Dengan jujur mereka menceritakan apa yang mereka rasa, sehingga tulisan mereka sampai ke perasaan.
Oke mendadak jadi pengen posting sesuatu yang romantis.
Sebenarnya sajak ini udah ada dari dulu di handphone dan di komputer.
Hanya saja sekarang saya bikin blog version nya.
Monggo dinikmati sebagai bagian dari sastra dan karya saya yang tertunda diposting.
Tulisan yang sedikit romantis.
Atau bahkan absurd. Hahahaha
Judul :
Boleh Aku Membuat Catatan Untukmu
Bolehkah aku membuat catatan
untukmu?
Kamu bukan seseorang yang selalu
mengorbit tiada henti sepertinya.
Orbitalmu tidak acak, jalur orbitalmu
stagnan tapi tidak bisa ditebak berapa kecepatannya.
Tidak cepat tidak juga lambat. Mungkin
spontanitas adalah simbol eksistensimu.
Tidak ada yang tahu teori apa
yang bisa digunakan untuk menghadapimu.
Bolehkah aku membuat catatan
untukmu?
Aku suka sekali hujan. Kamu
mungkin tidak.
Seperti ada saput yang membatasi
dunia antara aku dan kamu. Tapi kamu tahu.
Sebuah saput tak selamanya menyedihkan.
Itu hanya sebagai pengingat.
Bahwa seperti halnya sebuah
paradigma lama.
Kamu perlu jarak untuk memaknai
sebuah keberadaan.
Bolehkah aku membuat catatan
untukmu?
Memikirkanmu tidak menyita waktu
dan pikiranku. Itulah perbedaannya.
Aku bahkan tidak bisa memaknaimu
lewat prolog ataupun ratusan bab tambahan.
Melihat warnamu pun aku perlu
berteman dengan waktu dan jutaan lembar halaman.
Baru aku tahu, bahkan hingga
kini aku tidak tahu ini apa dan kamu apa.
Tetapi itulah asyiknya.
Bolehkah aku membuat catatan
untukmu?
Mungkin suatu hari aku akan
bosan, mungkin aku akan bergidik atau tertawa.
Tetapi mungkin aku akan tinggal,
melihatmu ratusan kali dan mendengarmu ribuan kali.
Selalu ada banyak kemungkinan
untuk perasaan yang selalu berdinamika.
Mungkin kenangan membantumu. Kamu
bersahabat karib dengannya dari dulu.
Aku tahu sekarang karena kenangan itu mulai mengalahkan logikaku
Bolehkah aku membuat catatan
untukmu?
Perlahan, aku percaya takdir itu
berjalan. Dan kemudian datang mencobaku.
Berjuta huruf dan kalimat
mengalir lebih banyak karena sepersekian momen yang terekam.
Kamu membuat semuanya seperti
sebuah cerita di negeri dongeng dan drama roman yang handal.
Hingga akhirnya aku percaya
bahwa imajinasiku banyak menjadi nyata.
Bolehkah aku membuat catatan
untukmu?
Jika suatu hari kamu berkata,
sungguh egois wanita ini menulis sajak yang sungguh objektif.
Tak apa, aku sudah berkali-kali
belajar untuk menahan perasaan. Aku bisa tidak membiarkannya tumbuh. Aku cukup
kuat hingga pernah memendam sesuatu begitu lama.
Kau tahu, aku sudah terlatih
untuk menyembunyikan ekspresi.
Jadi berlatihlah dengan keras
untuk membaca ekspresiku ya?
Bolehkah aku membuat catatan
untukmu?
Aku suka dengan cerita yang seperti
ini.
Aku suka berharap akan menemui
ending yang indah dengan alunan musik klasik yang menggema.
Kamu itu sesuatu yang tidak
pernah aku bayangkan sebelumnya. Tidak pernah.
Kamu itu sesuatu yang hadir
sebagai objek tulisanku kali ini.
Entah itu hanya berakhir dalam
tulisan atau kau mengambil jalan yang lebih panjang.
Bolehkah aku membuat catatan
untukmu?
Mungkin suatu hari kau akan lupa
denganku.
Tetapi tulisan ini pernah hidup.
Dengan segala kejujuran dan ketulusan.
Terlalu puitis dan konotatif. Ah
biarlah. Berlebihan juga biarlah.
Kapan lagi aku mengganti objek
tulisanku? Kapan lagi aku melangkah dari masa lalu.
Oke. Terimakasih telah membuatku
masuk ke dalam ceritamu dan memperindah ceritaku.
Hidup tak selamanya homogen,
terkadang semuanya heterogen.
Seperti kita yang tak pernah
absen mencoba memaknai perbedaan.
Bisa kah?
Regards,
Perempuan beransel yang selalu
berkhayal tentang pangeran dan negeri dongeng